Saturday, 21 July 2012

Pergi yang tak pergi



“Ehmm… “ Faza dan Lina berucap bersamaan.

Oke, kamu dulu  deh yang bercerita.Ucap Lina.


Mereka melanjutkan perbincangan di bawah langit senja, kali ini bahan pembicaraannya adalah masalah perkerjaan. Mereka berdua sadar, bahwa saat ini bukanlah masa kanak-kanak lagi melainkan masa pendewasaan. Sudah saatnya mereka untuk mencari nafkah agar tidak lagi membebani orang tua. Setelah Faza bersemangat, sekarang giliran Lina menceritakan pekerjaan barunya.



“Sepertinya minggu depan kita akan berpisah Fa!” ucap Lina lirih.

“Apa maksudnya Lin? Kamu mau pergi?” tanya Faza terkejut.

“Iya, mungkin di sini bukan tempatku untuk mencari nafkah Fa, melainkan di perantauan sana. Kemarin aku dapat kabar kalau aku akan diajak kerja bersama Pak Fajar. Tadinya aku bingung dan terus memikirkan ini baik-baik, aku juga sudah konsultasi ke orang tuaku. Intinya mereka menyerahkan sepenuhnya kepadaku. Dan bukankah kamu tahu sendiri? Aku sudah lelah mencari makan di sini Fa!” Lina mencoba menjelaskan keputusannya kepada faza, sahabatnya.

“Tapi Lin, apa sudah tidak bisa dipikir ulang? Kamu yakin akan pergi merantau? Ingat, kamu belum pernah pergi jauh dari orang tuamu, kamu yakin bisa hidup sendiri?” Faza kembali berucap, terlihat raut khawatir di matanya.

“Aku yakin Fa, kamu tak perlu khawatir, aku tidak sendiri ada Pak Fajar yang akan menjagaku dan membimbingku dengan baik.”

“Baiklah kalau itu keputusanmu, aku di sini akan selalu mendukung dan mendoakanmu. Baik-baik di sana dan jangan pernah lupakan aku!”


Mereka kembali terdiam. Keduanya sibuk dengan pikiran masing-masing. Lina kembali ragu dan mulai meyakinkan keputusannya untuk tetap pergi merantau. Sedangkan Faza masih belum percaya akan keputusan sahabat baiknya itu. Mereka belum yakin bisa hidup tanpa saling berhubungan satu sama lain. Mereka berdua sahabat karib dari kecil dan ke mana saja pergi mereka selalu bersama. Bahkan sebagian besar teman menganggap kalau mereka itu sudah lebih dari sekedar teman. Pada kenyataannya mereka hanyalah sepasang sahabat. Sahabat yang sebentar lagi akan terpisahkan oleh waktu.

***

Kini Lina benar-benar pergi merantau bersama Pak Fajar dan meninggalkan keluarga serta sahabat-sahabatnya. Semangat untuk segera kembali pulang dan bertemu dengan keluarga serta Faza lah, yang membuatnya semakin  rajin menggeluti pekerjaan.

Setahun berlalu dan tiba waktunya Pak Fajar mengajak Lina pulang ke kampung halaman, sekedar untuk menemui keluarga dan sahabat. Pengalaman yang telah didapat salama merantau membuat Lina  yakin untuk tidak pergi jauh lagi. Dia merasa kesepian dalam keramaian.

Setelah keluarga yang ditemui, Lina melangkahkan kaki untuk menemui sahabat baiknya. Dia berjalan penuh semangat menuju rumah Faza. Tak lama kemudian kaki itu terhenti. Dia melihat Faza bersama seorang perempuan. Bercakap dengan tatapan yang dalam. Seketika Lina mengurungkan niat untuk menemui Faza dan kembali ke rumah.

Malam harinya terdengar suara Faza berbicara dengan Ibu Lina. Mendengar suara tak asing itu, Lina keluar dan menemui sahabat yang sudah lama tidak dijumpainya.


“Hai!” ucap Lina singkat.

“Hai Lin, sombong sekali! kamu gak kangen ya sama sahabatmu yang keren dan ganteng ini?” ucap Faza dengan tawa khasnya.

Memangnya kamu kangen sama aku?

“Ya elah Lin, kalau gak kangen untuk apa juga aku sekarang ke rumahmu. Oh iya sekarang aku sudah punya kekasih dong, namanya Kikan. Besok aku kenalin deh, kamu sendiri gimana? sudah menemukan Pangeranmu?” Faza bersemangat.

“Belum Fa, aku belum menemukan orang baik dan tampan sepertimu.!” sambil tertawa meskipun tidak ada yang lucu.

“Iyalah siapa dulu, Faza.” Katanya bangga.


Seketika hening.


“Aku takut kehilanganmu Fa!”

“Tenang saja Lin, meski sekarang ada dia, kamu akan selalu di hatiku. Iya kamu adalah sahabat terbaikku dan akan selalu di hatiku. Mungkin memang dia yang akan jadi pendampingku tapi kamu juga selamanya akan selalu ada di sisi lain hatiku. Aku tak kan pernah melupakanmu. Begitu juga dirimu bukan?” ucap Fa kembali.

“Iya Fa, kamu benar. Kita sahabat selamanya.” keduanya kembali tersenyum dan mengikat jari mereka sebelum Faza berpamitan pulang.


Sahabat adalah selamanya, walaupun tidak saling memiliki tetapi dia akan selamanya menempati sisi lain di hati dan tak akan pernah terganti oleh siapapun. Sampai kapanpun dia akan selalu mendukung kita meski raganya tak selalu ada di sisi. Lina masih termenung memikirkan apa yang baru saja dialaminya. Faza adalah sahabat kecilnya namun ketika ada perempuan lain disisi faza hatinya merasakan sakit yang luar biasa. Akhirnya Lina tersadar, Faza adalah sahabatnya meskipun mereka dekat dan tahu satu sama lain tetapi persahabatan itu jauh lebih indah dari segalanya. Rasa takut akan kehilangan sosok sahabatlah yang membuat hati itu sakit hari kemarin. Dan kini keputusan sudah diambil, Lina kembali merantau dan berharap akan segera menemukan pendamping seperti apa yang telah Faza dapatkan.


“Si Lina pergi ke pasar! “ terdengar suara Pak Fajar diiringi dengan suara gendang. 


Mulailah Lina mengambil keranjang dengan bergaya layaknya  ibu-ibu yang akan berbelanja. Pertunjukan monyet itu selesai. Lina berjalan mengelilingi pengunjung sembari menyodorkan topi untuk menerima uang dari penonton.

***


"Sahabat adalah selamanya, walaupun tidak saling memiliki tetapi dia akan selamanya menempati sisi lain di hati dan tak akan pernah terganti oleh siapapun"




11 comments:

  1. FYI,
    ini adalah pertama kalinya saya menulis Fiksi dan itu berpa Fabel, spesial untuk ikutan GA-nya Mba Nufa :D ..

    Mohon bantuan komentar pedasnya :D

    ReplyDelete
  2. sepanjang perjalanan hiudpku,,, aku belum pernah punya sahabat cewe ,,,

    ReplyDelete
  3. Ya ampuuunnn aku tertipu bangeetttt... beneran deh aku ga nyangka kalau mereka itu monkey, aku pikir kamu cuma bikin fiksi tapi bukan fabel.. :D sukses ya bikin orang tertipu sebentar hehe..

    okay makasih ya, akan aku catat, dan ini merupakan bw yg tmasuk pengecualian nih ;)

    'xoxo'

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mati gaya mba Nufa aku bingung mau nulis fabel tentang apa dan hasilnya ini dia masih abal-abal :D.

      Kyaaa puasa gini membuat orang tertipu gak batal kan ya ? hehehe

      Makasih juga buat BW pengecualiannya *jadi gede kepala*. ^__^

      Delete
  4. ya ampun laini ... bagus banget cerita fiksinyaa .....
    okee, dalam waktu yang gak lama aku juga akan membuka give away ya, insyaallah... menyusul NF dan Annesya :)

    Ngabuburit by blogwalking. Cara unik menahan lapar dan haus selama berpuasa ^ ^

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih Indra *kasih gopekan*..
      Okeee ditunggu ya GA.nya :D

      Delete
  5. wah ini nama monyet terlalu bagus, aku kira nama orang...wkwkwkwk,..salam sukses

    ReplyDelete
    Replies
    1. hihihi..
      Namanya kerenan ya Ka :D

      Makasih

      Delete
  6. yahahahaha... romantis banget ya persahabatan antar monyet, jadi ngiri nih. sahabatan yuk biar ngga kalah sama monyet. hehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. hayukkk ka dengan senang hati *salaman* :D

      Delete